MENGHADAPI ERA MILENIAL DALAM PRESPEKTIF ISLAM

1. Konsep keislaman dan era milenial

Salah satu ciri Era Milinial ialah ditandai dengan melesatnya perkembangan teknologi informasi yang menyebabkan segala sesuatu menyangkut kebutuhan hidup bisa dipenuhi secara instant. Dunia menjadi demikian sempit (borderless), nyaris tidak ada batas lagi batas menyekat antar manusia di belahan bumi ini. Kondisi demikian ini menyebabkan pola hidup manusia menjadi sangat tergatung terhadap internet sebagai penyedia sumber informasi dan berbagai layanan kemudahan dalam mengakses informasi.

Islam adalah agama yang yang luwes, fleksibel, dan akomodatif terhadap perubahan zaman. Hal itu sejalan dengan perintah membaca dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yaitu perintah untuk membaca(Iqra’), hal ini sebagai isyarat agar umat Islam hendaknya selalu melakukan pembacaan terhadap objek-objek yang muncul selaras dengan perkembangan waktu dan zaman. Iqro’ dari asal kata qoro’a-yaqro’u bisa  diartikan membaca, mengumpulkan, meneliti, mengobservasi terhadap sesuatu, termasuk gejala perubahan zaman dan kondisi kekinian yang sedang terjadi bisa menjadi objek sasaran bacaan. 

Dengan demikian umat Islam dituntutut untuk melakukan upaya tindakan antisipatif terhadap gejala perubahan zaman agar dapat menyesuaikan dengan kondisi dan situasi terkini dalam menjalankan misinya sebagai rahmat bagi sekalian alam. Selanjutnya umat melakukan adaptasi  dalam merespon terhadap tantangan-tantangn yang timbul akibat perubahan zaman termasuk munculnya generasi milenial. 

2. Pengaruh era milenial terhadap konsep keislaman generasi penerus bangsa

Era milenial adalah sebuah era yang ditandai dengan munculnya fenomena yang serba cepat, serba instan, dan serba canggih dengan karakter generasinya yang  individualis, egoisme, narsis, dan mental yang labil. Generasi milenial juga sangat tergantung dengan  internet dan medsos yang menjanjikan segala kemudahan dalam kehidupan sehari-hari baik menyangkut informasi, ilmu pengetahuan, dan hubungan sosial. era milenial juga ditandai dengan  munculnya berbagai tawaran kemudahan yang sangat menggiurkan tetapi sekaligus tidak jarang menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah sosial yang tidak dikenal pada era sebelumnya semisal pornografi, human trafiking, dan kejahatan-kejahatan dalam bentuk lain. Selain itu permasalahan yang ditimbulkan oleh era ini adalah munculnya generasi yang lebih memilih kebebasan, mengandalkan kecepatan informasi dan hyper-teknologi yang mengakibatkan kurangnya interaksi sosial di lingkungan mereka. 

Menghadapi situasi demikian, perlukah umat Islam menciptakan sistem kehidupan keagamaan yang baru, membuat aturan-aturan baru demi menyelamatkan ganerasi meilenial atau cukup melakukan adaptasi dengan lingkungan baru tanpa merubah tradisi lama.tentu tidak mudah menjawabnya, tetapi paling tidak dalam situasi demikian sebagai pengguna teknologi informasi  tidak ada salahnya  melakukan terobosan-terobosan cerdas agar era digital ini dapat kita manfaatkan internet dijadikan sebagai media penyebaran dakwah. Dalam hal ini sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, madrasah, dan pondok pesantren bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk kepentingan lembaga sesuai dengan kebutuhan.  

3. Bagaimana mencetak muslim milenial berkemajuan

Apa yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan  dalam menghadapi era milenial yang penuh tantangan ini. Pertama;Pendidikan harus menanamkan nilai-nilai keilahian (rabbani) dalam pembelajaran sains dan teknologi dengan menghubungkan setiap kejadian di alam semesta pasti memiliki keterkaitan yang erat dengan Allah, sang pencipta. Dengan menunjukkan bahwa manusia adalah insan ciptaanNya yang selalu harus patuh terhadap hukum-hukum sunnatullah. Kedua;menjadikan nilai-nilai rabbanisebagai landasan dalam melakukan pengembangan sains dan teknologi dengan tetap menggunakan logika sebagai landasan nalar berpikir. Ketiga;menjadikan moral agama sebagai core-values dalam menetapkan indikator pencapaian yang harus ditempuh oleh setiap peserta didik pada setiap jenjang pendidikan. 

وَلَـكِن كُونُواْ رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ ﴿٧٩

Akan tetapi, “ hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”

Dari ayat di atas diperoleh pengertian bahwa menjadi rabbaniadalah tujuan akhir dari sebuah aktivitas pengkajian terhadap al-Qur’an. Yaitu menjadi rabbani, yaitu orang-orang yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang bertakwa,dan orang-orang yang melakukan nasihat kepada orang lain. 

Sedangkan al-Qur’an memuat ragam ilmu pengetahuan yang menyangkut tiga aspek penting, yaitu al-insan (manusia), al-kaun(universe), dan, al-hayat(kehidupan). Segala yang bertalian dengan ketiga aspek itulah intisari dari Al-Qur’an. 

Dengan demikian sains dan agama harus selalu berdampingan, tidak boleh dipisahkan samasekali.Dengan pola pendidikan demikian, kemajuan yang dicapai oleh generasi milenial tidak kosong dari asupan nilai-nilai agama dan pada profesi yang ditekuninya selaras dengan nilai-nilai Islam. Adapun pendekatan nilai bisa menggunakan beberapa pilihan. 

Pertama;incultivation approach:  yaitu dengan menanamkan nilai-nilai pada peserta didik sejak usia dini, baik melalui metode keteladanan, metode penguatan, atau metode simulasi. Kedua: pendekatan kognitif, yaitu dengan mendorong peserta didik untuk melakukan proses berpikir aktif dalam membuat keputusan moral yang mengacu pada nilai-nilai Islam. Ketiga; menggunakan metode value analysis approach,yaitu adanya penekanan pada peserta didik untuk berpikir logis dengan menganalisis pada masalah-masalah yang terkait nilai-nilai sosial.Keempat; menggunakan pendekatan action learningapproach, yaitu upaya mendorong pada peserta didik untuk melakukan aktivitas-aktivitas social, baik secara individual maupun berkelompok.Kelima;dengan metode pembiasaan. Meskipun pendekatan ini dapat digolongkan sebagai pendekatan action, tetapi dalam pembiasaan hendaknya ada tahapan-tahapan yang terukur dan terevaluasi. Terkait pendidikan genarasi milenial pesan Nabi berikut sangat relevan;

أدبوا أولادكم على ثلاث خصال، حبِّ نبيكم، وحبِّ آل بيته، وتلاوة القرآن

“ Didiklah anak-anakmu tiga perkara; mencintai nabimu, mencitai keluarganya, dan membaca al-Qur’an” Hadist ini dikutip dari kitab Jami’u shaghir karangan Imam Suyuthi. Adapun penjelasan singkat dari hadist di atas sbb.;

  1. Para orang tua hendaknya mengajarkan kepada putera-puterinya rasa cinta Nabi Muhammad saw. karena cinta kepada Nabi akan mendorong anak-anak untuk meniru akhlak Nabi. Mengajarkan cinta kepada Nabi artinya orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya bagaimana berakhalak seperti akhlaknya Nabi, karenaakhlak al-karimahyang diperankan oleh orang tua akan mudah diserap oleh anak-anaknya.
  2. Para orang tua hendaknya mengajarkan pada anak-anaknya untuk mencintai keluarga dan para sahabat  Nabi, yaitu dengan mengenalkan nama-nama mereka, Sayidina Hasan, Sayidina Husain, dan sahabat-sahabat Nabi seperti sahabat Abu Bakar, Sahabat Umar, Sahabat Ustman bin Affan, Sahabat Ali bin Abi Talib dst. Para arang tua hendaknya juga mengisahkan perjuangan mereka, kecintaan mereka kepada Nabi, dst. Dalam hal ini keluarga Nabi bisa diartikan dua jalur, 1. keluraga yang ada hubungan biologis langsung dengan Nabi, 2. keluarga yang ada hubungannya dengan Nabi melalui jalur keilmuan, yaitu para ulama. Sedangkan mencintai mereka berarti sama dengan mencintai Nabi, mencitai Nabinya berarti akan mendorong untuk meniru akhlaknya. 
  3. Mengajarkan anak-anak membaca al-Qur’an, artinya kita dekatkan mereka kepada kitab suci yang berisi panduan hidup yang berisi petunjuk-petunjuk yang lengkap.baca Al-Qur’an. Dengan demikian secara tidak langsung kita siapkan sebagai generasi yang cinta al-Qur’an, karena orang yang cinta Al-Qur’an akan terdorong hatinya untuk menghafal, memahami, dan mengikuti petunjuk-petunjuknya. Orang yang membaca al-Qur’an digambarkan pertanda mengimani terhadap isi kandungannya. 

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

‘ orang-orang yang telah kami berikan al-Kitab (al-Qur’an) kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi

Al-baqarah: 121

Melihat fenomena keberagmaan generasi milenial yang menjadikan internet sebagai sumber pemenuhan terhadap semua kebutuhan informasi bagi mereka agaknya harus disikapi dengan hati-hati. Sebab sumber-sumber informasi di internet bisa jadi memang berisi sumber pokok yang berisi buku-buku yang berkualitas dan layak dijadikan rujukan pengetahuan agama, tapi tidak sedikit yang berisi pengetahuan yang menyimpang. Di sisi lain dengan tidak adanya filter yang menyaring mana sumber yang layak dikonsumsi dan mana yang tidak, kiranya harus ada upaya kerjasama yang baik antara para pendidik dan para tokoh masyarakat dalam menyikapi persoalan yang cukup dilematis ini. 

Tersedianya sumber-sumber pengetahuan agama  yang ditulis oleh orang yang tidak memiliki otoritas, lebih-lebih jika tulisan atau materi agama itu menjurus pada penyelewengan agama tentu akan berakibat munculnya kerawanan terhadap  kecen   derungan sikap negatif bagi generasi milenia yang disebabkan pengaruh buruk dari bacaan di internet. Di sisi lain, dengan melimpahnya sumber-sumber pengetahuan agama di internet juga mengakibatkan generasi milenial enggan untuk belajar agama kepada ulama. Karena merasa semua yang dibutuhkan sudah tersaji di internet, belum lagi akibat negatif yang ditimbulan adanya film-film porno dan berita-berita hoax yang begitu menjamur. Untuk mengatasi kondisi demikian perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut;

Langkah pertama: menghidupkan tradisi pola hubungan guru-murid ala pesantren.

Dalam menghadapi semakin derasnya kemunculan sumber-sumber pengetahuan agama di media internet yang dapat diakses dengan mudah,menjadikan kebutuhan terhadap  ulama sebagai sumber ilmu agama semakin tergerus. Posisi ulama sebagai penyuluh umat telah tergantikan dengan berbagai vedio di youtubeyang dapat didownload dan diputar dengan mudah oleh pengguna internet. Di sisi lain orang  belajar agama tidak selamanya bisa lakukan dengan hanya membaca artikel di internet, tetapi butuh bimbingan ulama yang kredibel dan punya otoritas. 

Oleh sebab itu lembaga-lembaga pendidikan Islam harus melakukan upaya menghidupkan tradisi pesantren dalam melestarikan pola hubungan antara guru dan murid yang disebut patron and cline relationship. Yaitu pola budaya kepatuhan dan rasa hormat  kepada guru sepanjanag hayat. Tradisi ini merupakan tradisi pesantren  yang sangat baik, untuk membentuk karakter peserta didik.Dengan mengembangkan pola ini diharapkan generasi milenial  akan tetap menjaga tradisi sowan kiyai, tradisi tabayun,ngalap berkah, ngangsu kaweruhdemi menjaga kemurnian transmisi keilmuan yang sudah terpola sejak zaman awal Islam.  

Langkah kedua; harus diupayakan adanya penanaman kontrol diri

Rasulullah saw sebagai seorang murabbisejati telah memberikan contoh yang sangat baik agar setiap manusia merasa diawasi oleh Allah swt secara langsung sebagaimana wasiat nabi;

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ….. رواه الترمذي

“Jagalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah dan larfangan Allah) niscaya kamu akan mendapatkannya di hadapanmu (Allah akan selalu membantumu) HR. Turmuzi

Rasulullah mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa merasa diawasi oleh Alllah, pengawasan ini ibaratnya seperti CCTV yang bekerja dalam kesadaran si hamba, bahwa perilaku apapun tidak luput dari pengawasan Allah, baik dalam sikap diam maupun dalam geraknya, perkataan, perbuatan, semua aktivitasnya selalu dikontrol oleh Allah. 

Langkah ke tiga; pemanfaatan media sosial dan internet sebagai media dakwah 

Munculnya banyak sumber-sumber informasi yang dapat ditemukan melalui media internet harus dimanfaatkan sebagai media dakwah kepada generasi milenia. Tentu perlu dirancang dan ditulis dengan bahasa yang khas dan tampilan yang menarik. Meskipun tidak ada panduan khusus, tetapi paling tidak sajian dan menu dalam webs harus dibuat sedemikian rupa agar menarik dan mudah dicerna. Dengan internet paling tidak bisa dilakukan penyebaran materi dakwah melalui youtube seperti materi khutbah, pidato, ceramah, seminar, dan nasihat atau tausiah. Di sisi lain bisa dikembangkan juga materi dakwah dalam bentuk tulisan, seperti buku, majalah, buletin, surat kabar, diktat, spanduk dan cerpen. 

Masih banyak sekali materi dakwah yang bisa diunggah di internet,baik berupa audio, audio visual maupun dalam bentuk tulisan, tergantung kreativitas sang da’i, mau dikemas dalam bentuk apa yang dapat menarik bagi audiennya. Intinya bagaimana dakwah bisa mewujudkan kebaikan sehingga umat menjadi lebih baik dan mau mengikuti ajakan dakwahnya. 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata; “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri” Fushshilat (41:33)

Ayat ini mempertegas sebagai sanjungan kepada para da’i bahwa perkataan mereka yang baik, lemah lembut, dan tidak kasar akan dapat menarik perhatian