KEUTAMAAN TADARUS AL-QUR’AN

Latar belakang

Al-Qur’an adalah kitab suci berisi petunjuk penting yang menjadi pegangan bagi umat Islam. Kitab ini berisi ajaran-ajaran yang berfungsi sebagai guidenace, petunjuk kehidupan yang jadi pegangan sekaligus juga berfungsi sebagai at-tibyan penjelas segala sesuatu dan menjadi pembeda (al-furqon), antara yang haqdan yang batil.  Di samping itu al-Qur’an juga sebagaihudan, petunjuk yang berfungsi sebagai penuntun umat manusia ke jalan yang benar baik dalam hal akidah, syariah, dan akhlaq untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Di sisi lain al-Qur’an juga sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di mana kemukjizatan al-Qur’an sudah banyak dikaji oleh para pakar Al-Qur’an.Meskipun telah dilakukan berbagai upaya mengungkap kemukjizatan al-Qur’an oleh para ulama, tetapi al-Qur’an sejak awal diturunkannya sampai saat ini tetap saja memunculkan keajaiban-keajaiban baru dan menghadirkan pesan-pesan baru sesuai dengan perkembangan akal manusia dari waku ke waktu. 

Al-Qur’an juga telah dikaji dari berbagai pendekatan; dari sisi ilmu bahasa,sastra gramatika sampai pendekatan ilmu-ilmu modern seperti  kedokteran, biologi, astronomi, ilmu kelautan, dan seterusnya,tapi usaha untuk menghadirikan pesan-pesan Al-Qur’an merupakan proses yang tak pernah berakhir sapanjang hayat manusia di muka bumi. 

 Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz dan 114 surat ternyata juga mampu dihafal di luar kepala oleh ribuan bahkan jutaan umat islam di seluruh dunia. Al-Qur’an juga sebagai bacaan umat Islam baik secara individu maupun berjamaah baik  di rumah,di masjid, atau di majlis-majlis perkumpulan pecinta al-Qur’an. Di sisi lain al-Qur’an juga dibaca pada setiap waktu secara rutin; pagi, sore, dan bahkan malam hari baik  di lingkungan perkotaan maupun pedesaan, di masjid, musholla, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan. 

Kegiatan membaca al-Qur’an baik secara individu maupun berkelompok biasa disebut dengan tadarusan, yaitu membaca al-Qur’an dengan tujuan untuk memperlancar bacaan atau menjaga hafalan agar supaya tetap terjaga.Selanjutnya tadarusan  juga menjadi sebuah tradisi di mana sekelompok masyarakat melakukan kegiatan ini secara bergilir antar anggota sementara yang lainnya menyimak. Tulisan ini berutujuan untuk menjelaskan definisi tadarus, tujuan tadarus,hikmah dan keutamaan tadarus Al-Qur’an.

1. PENGERTIAN TADARUS AL-QUR’AN

Tadarus  dilitilik dari asalnya dari درس  darasamemiliki arti belajar, mempelajari jika ditambahkan dengah  huruf تdi awalnya menjadi تدارسartinya mempelajari bersama. Secara bahasa tadarus adalah sebuah kegiatan mempelajari, menelaah, dan mengkaji serta mendalami secara bersama sama di mana aktivitas tadarus melibatkan orang lain.bisa juga diambil dari kata دارسbelajar besama, dimana dua orang terlibat dalam kegiatan mengulang dan mempelajari kembali apa yang sudah dipelajari sebelumnya. (lihat kamus al-munawir, 1997)

Jadi asal kata tadarusdilihat dari pengertian di atas melibatkan dua pelaku atau lebih, ada yang menyimak dan ada yang membaca baik pelakunya antara guru dan murid maupun antar sesama murid dengan tujuan untuk mempelajari bersama terhadap al-Qur’an baik bertujuan untuk  melatih menjaga agar bacaan al-Qur’annya tetap terjaga atau  bertujuan  untuk menjaga hafalannya dengan mengulang-ulang bacaan itu.

Dari uraian di atas setidak dapat disimpulkan bahwa pengertian tadarus ialam membaca, mempelajari, dan memahami isi ayat-ayat al-Qur’an, baik dilakukan bersama-sama secara bergantian maupun secara individu. Dengan pengertian ini diharapkan terjaga kebenaran dalam membaca dan terjaga pula hafalan al-Qur’an. Kegiatan tadarus al-Qur’an dengan demikian adalah kegiatan membaca atau menyimak bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an baik dengan memahami artinya atau tidak, dilakukan secara bersama-sama maupun sendiri. 

2. TUJUAN TADARUS AL-QUR’AN

Meskipun tadarus merupakan tradisi yang biasa dilakukan di majlis-majlis al-Qur’an, ternyata juga dilakukan oleh Nabi sebagaimana diungkap dalam hadist:

عن ابن عباس رضي الله عنهما، أن جبريل عليه السلام كان يلقى النبي صلى الله عليه وسلم في كل ليلة من رمضان، فيدارسه القرآن، وفي رواية ثانية: فيعرض عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم القرآن
 

“ sesungguhnya Jibril turun setiap malam ramadhan untuk menjalankan tadarrus Al-Qur’an dengan Nabi. Dalam riwayat lain, Nabi membaca, sedangkan Jibril menyimak”

Mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi, tadarusbisa dilakukan minimal kolaborasi antar dua orang; yaitu pembaca dan penyimak atau pendengar. sebagaimana yang diprektekkan oleh Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril dalam hadist di atas. Kegiatan tadarus paling tidak bertujuan untuk memastikan apakah bacaan yang dimiliki Nabi sudah baik dan benar atau belum, maka perlu dibaca ulang dihadapan Jibrli untuk mendengar dan menyimaknya di samping untuk menjaga agar hafalan agar tidak sampai hilang.

تعاهدوا هذا القرآن، فوالذي نفس محمد بيده لهو أشد تفلتاً من الإبل في عُقلها متفق عليه.

“Berusahalah untuk menjaga Al-Qur’an, demi zat yang jiwaku ada pada kekuasaannya sesungguhnya al-Qur’an itu lebih mudah lepas dari pada lepasnya onta dari talinya.”

Perintah Nabi dalam redaksi kalimat ta’ahud (Jagalah) pada hakikatnya adalah sebuah perintah untuk melakukan tadarus, dimana fungsi utama dari tadarus adalah bertujuan tujuan untuk memelihara, memperbaiki, dan meningkatkan kelancaran bacaan dan hafalan Al-Qur’an. Melihat pesan yang tersirat dalam ayat berikut ternyata tadarus  juga bertujuan untuk menggali dan mendalami makna dan isi kandungan Al-Qur’an.

 أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها (محمد:24)، 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan (mentadabburi) al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. Muhammad: 24) 

Karena orang yang tidak memahami pesan-pesan al-Qur’an diumpamakan sebagai orang yang terkunci hatinya, dengan kata lain tujuan tadarus pada intinya bukan sekedar demi menjaga bacaan dan hafalan saja, tapi juga bertujuan untuk memahami dan merenungkan isi  kandungan Al-Qur’an. Dalam ayat lain perintah untuk merenungkan pesan-pesan tersebut juga terdapat dalam ayat berikut;

قُلْ إِنَّمَآ أَعِظُكُم بِوَٰحِدَةٍ ۖ أَن تَقُومُوا۟ لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَٰدَىٰثُمَّ تَتَفَكَّرُوا۟ ۚ مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَّكُم بَيْنَ يَدَىْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

“ Katakanlah, sesungguhnya aku hendak meperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu berpikir tentang Muhammad tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Saba’ 34:46)

Dari keterangan di atas tujuan tadarus dapat disimpulan; (1) untuk melatih dan memperlancar bacaan Al-Qur’an (2) untuk menjaga hafalan agar tidak lupa, (3) untuk memahami dan merenungkan isi dan  pesan-pesan Al-Qur’an. Oleh sebab itu kegiatan tadarus tidak lepas dari gabungan dari unsur tilawah,(membaca) tadabur(merenungkan artinya), dan tabasur(memperhatikan dengan seksama) makna dan isyarat-isyarat yang terkandung di dalam Al-Qur’an. 

3. KEUTAMAAN DAN HIKMAH TADARUS AL-QUR’AN

Dalam wahyu pertama yang diturunkan terdapat perintah membaca (iqra’)secara berulang, sementara pengertian iqra’bisa bermakna mengumpulkan, mempelajari, mendalami, meneliti, dan membaca, baik teks tertulis maupun yang tidak tertulis. Jika dilihat dari pengulangan perintah membaca dalam surat tersebut bisa jadi menunjukkan isyarat bahwa membaca tidak sekali, tapi berkali-kali agar tercapai pemahaman yang mendalam dan maksimal. Tujuannya agar si pembaca bukan saja faham isi teks itu, tetapi supaya mampu mengembangkan gagasan, wawasan, dan menambah kesucian jiwa dan kebersihan batin. Kesucian jiwa itu karena adanya perintah membaca diiringi dengan kalimat bismi rabbik, dengan menyebut asma Tuhanmu, yaitu Allah.Selanjutnya perintah membaca juga diikuti perintah mengikuti pesan yang terkandung di dalam teks dan dilanjutkan dengan perintah bertakwa.

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka iktuilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (al-An’am:155)

Dari ayat di atas diperoleh pengertian bahwa kitab al-Qur’an di dalamnya mengandung barokah, banyak kebaikan yang diturunkan, lebih-lebih jika si pembaca  mengerti apa isi kandungannya selanjutnya bisa mengikuti isi perintah-perintah yang ada di dalam bacaaan itu. Beberapa mufasir di antaranya Ibnu Kastir berpandangan bahwa ayat ini adalah seruan untuk mengamalkan isi kandungan al-Qur’an agar mendapat kebaikan-kebaikan (barokah) di dunia maupun di akhirat. Penegasan keberkahan al-Qur’an juga tersirat dalam ayat berikut;

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad:29)

Bisa jadi keberkahan Al-Qur’an dilihat dari ayat di atasadalah karena telah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang dihasilkan dari proses berpikir tentang ayat-ayatNya sehingga terhindar dari perilaku-perilaku yang menyimpang. Sedangkan pengertian barokah didefinisikan sebagai berikut; 

البركات: جمع بركة: وهى ثبوت الخير الإلهى فى الشيء، وسمى بذلك لثبوت الخير فيه كما يثبت الماء فى البركة.

“Pengertian barakah ialah ditetapkannya kebaikan ilahi atas sesuatu, seperti melekatnya air di dalam bejana”

Raghib al-asahaniberpendapat bahwa “barokah itu tidak bisa dihitung dan juga tidak bisa dilihat secara langsung oleh indra manusia karena inti dari barokah ialah; 

البركة: هي النماء والزيادة، حسية كانت أو عقلية، وكثرة الخير ودوامه، يقال: باركه الله، وبارك فيه، وبارك عليه، وبارك له

“Barakah itu bertambah dan berkembangnya sesuatu, kebaikan-kebaikan yang bertahan lama, baik yang kasat mata atau diterima dengan nalar. Dalam ungkapan sering diucapkan barokahu Allah, barok fih, baroka ‘alaih, barokallah”.

Jika tadarus al-Qur’an dikatikan dengan berkah artinya tadaraus bisa mendatangkan kebaikan-kebaikan yang tampak atau tidak tampak seprti rizki yang berkah karena membawa kebaikan-kebaikan, rumah yang berkah karena membuat penghuninya merasa tenang dan seterusnya. Bisa jadi keberkahan itu datang karena al-Qur’an yang berisi peringatan-peringatan dan anjuran-anjuran itu dipatuhinya baik oleh pembaca maupun pendengarnya.Diantara berkah al-Qur’an ialah diturunkannya rahmat, ketenangan jiwa, dan diturunkannya malaikat yang ikut mendoakan para penghuni rumah  yang digunakan tadarus Al-Qur’an sebagaimana diungkap dalam hadist;

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قالما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله تعالى يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عندهرواه مسلم

Tidalah suatu kaum berkumpul di antara rumah-rumah Allah sembil membaca kitabullah, dan saling mudarasah di antara mereka, kecuali akan diturunkan ketenangan, dan diberkan rahmat serta malaikat akan menaunginya dan mereka akan diingat di sisi Allah” 

Dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan Dr. Ahmed Al Qadhi,seorang pakar ilmu jiwa di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Dari hasil uji cobanya dapat disimpulkan, bacaan al-Qur’an mampu melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan berbagai ragam penyakit seperti penuruan depresi, kesedihan dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Meskipun tidak serta merta bisa diklaim kesembuhan itu karena berkahnya al-Qur’an, tapi paling tidak  bisa membuktikan terapi dengan mendengarkan al-Qur’an mendatangkan kesembuhan bagi pasien dari penyakitnya. 

 (https://iiq.ac.id/index.php?a=artikel&d=2&id=183)

Di sisi lain tadarus juga dapat meningkatkan kekhusyu’andalam berzikir kepada Allah, karena dalam tadarus bersama memungkinkan jamaah berinteraksi dengan al-Qur’an sebagai diisyaratkan ayat barikut;

 أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ) (الحديد: 16

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun.”

Ringkasnya tadarus al-Quran bila dijalankan dengan sungguh-sungguh dan khusuk akan mendapatkan banyak kebaikan karena di dalam kegiatan tadarus berkumpul banyak unsur; pendidikan, pengajaran, dan dakwah. Di dalam tadarus juga memungkinkan terjadi proses interaksi antar peserta untuk bisa saling mengkoreksi dan edukasi terhadap akhlak al-karimah.Tadarus al-Qur’an menjadikan  tambahnya keimanan, karena terjadi proses interaksi secara intens dengan kalamullah, semakin sering tadarus akan lebih mendekatkan kepada Allah, dengan proses tadarus terjadilah peningkatan pemahaman terhadap al-Qur’an. Inilah antara lain inti tujuan pokok dari tadarus Al-Qur’an.

Berikut ini nasihat dari syaikh Khamis an-Naqib yang sangat bagus sekali;

Jika engkau lelah dengan urusan dunia dan sedang dirundung kesedihan, cepat-cepatlah membaca Al-Qur’an. Karena dengan membaca Al-Qur’an semua kegalauan itu akan sirna. Karena al-Qur’an disebut “ruh” yang bisa menghidupkan hati dan semangat  yang telah mati.

Demikian juga ketika semangat hati telah layu, cahaya diri telah reda, dan pikiran telah tumpul, secara naluriah manusia pasti ingin kembali kepada kehidupan yang normal, agar bisa hidup kembali dengan kehidupan yang baru, dengan cahaya dan semangat yang baru, agar bisa melihat kembali jalan kebenaran.Dalam situasi demikian hendaklah segera membaca al-Qur’an. Niscaya semua kegalauan hidup itu akan segera sirna

Syaikh  Khamis an-Naqib menambahkan nasihat bagi pembaca Al-Qur’an

Jika Anda sudah merasa tidak betah dengan orang-orang di sekliling anda, karena melihat  mereka yang ditindas, kehidupan mereka hanya dipenuhi penderitaan dan duka, sementara dalam hati telah terakumulasi berbagai rasa kekhawatiran dan was-was, maka jangan ragu untuk mendapatkan kembali kegembiraan,terbebas dari semua beban itu jalan menuju kebahagiaan dimulai dengan membaca kalamullah(Al-Qur’an)”.(https://www.alukah.net/sharia/0/24620/#ixzz5Xd72b66r)

Mengapa Al-Qur’an mampu menghilangkan kesedihan, kegalauan, dan berbagai penyakit hati. Jawabaannya ada pada ayat berikut;

وَكَذَلِكَأَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (52) الشورى

“ Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah al-kitab (al-qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kehendaki di antara hamba-hamba kami. Sesungguhnya kamu benar-benar membei petunjuk kepad jalan yang lurus. (Q.S al-Syura [42]: 53

Ternyata Al-Qur’an merupakan cahaya yang diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi siapa yang yang dikehendaki oleh Allah. Di sisi lain membaca al-Qur’an merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sekaligus akan dicintai olehNya. Salah alah satu di antara sekian do’a yang dianjurkan setelah membaca al-Qur’an di antaranya ialah;

اللهم ارحمني بالقوان واجعله لي اماما ونورا وهدي ورحمة… 

“ Ya Allah, berikan rahmatMu kepadaku denganal-Qur’an, Jadikanlah Al-Qur’an sebagai panutan, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku”

PENUTUP DAN SIMPULAN

Al-Qur’an adalah berisi pesan-pesan Allah yang diturankan kepada umat manusia yang bersifat universal. Untuk memahami isi  kandungan dari Al-Qur’an perlu upaya-upaya yang serius melalui kajian yang mendalam. kegiatan tadarus yang sudah menjadi tradisi di lingkungan masyarakat Indonesia secara meluas bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk membentuk pola pemasyarakatan Al-Qur’an yang sangat efektif. Karena dalam kegiatan tadarus terdapat banyak keutamaannya, di antaranya ialah bisa dijadikan sebagai media pembelajaran yang sangat baik untuk memperbaiki kualitas bacaan, sarana untuk berzikir, tafakur, tadaburmakna kandungan al-Qur’an, sarana yang efektif melatih mental para siswa/wi untuk tampil di depan publik, pembiasaan akhlak al-karimah,dan bisa membukakan (berkah) kebaikan yang banyak sekali.

Secara individu, kegiatan tadarus bisa menjadikan watak cinta terhadap al-Qur’an, meningkatkan disiplin waktu, dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafsi)dan secara kolektif, kegiatan tadarus bermanfaat bagi masyarakat untuk mempererat tali silaturahmi, membentuk pola interaksi sosial, dan bermanfaat untuk menambah wawasan dan pemahaman terhadap isi kandungan al-Qur’an. Di sisi lain tadarus juga sebagai wasilah (perantara) untuk mendatangkan kebaikan bagi keluarga, bangsa, dan negara dalam rangka membentuk khairo ummah, umat teladan yang bisa dicontoh masyarakat dunia.Wallau ‘alam bishawab.